Pagi ini Narendra, mahasiswa di sebuah perguruan tinggi, memulai hari-harinya dengan memasukan handy cam kesayangannya ke dalam backpack-nya. Kegiatan seperti itu sudah ratusan kali ia lakukan, karena hobinya memang merekam segala kejadian dengan handy cam itu. Segala jenis kejadian tidak pernah lepas dari rekaman handy cam-nya. Dari mulai kejadian yang patut untuk direkam sampai kejadian nggak penting pun tetap terekam dengan baik di handycam-nya. Sebut saja kejadian wisuda di sekolahnya waktu SMA dulu, sampai kejadian kucing berantem pun pernah ia rekam dan hasil rekamannya terususun rapi di kamarnya. Sampai tak ia sadari bahwa hobinya itu telah kelewat batas dan membuatnya menjadi over-addicted.
Naren berkuliah di kampus yang berada di daerah pinggiran Jakarta dan memang agak jauh dari rumahnya. Hal ini merupakan hal yang menguntungkan baginya karena ia dapat merekam segala jenis kejadian di sekitarnya ketika ia pulang dan pergi dari kampus. Sampai suatu hari ketika ia berjalan di jalan sepi setelah turun dari kereta sepulangnya dari kampus, terdengar teriaka penuh kengerian tidak jauh dari tempatnya berjalan saat itu. Rasa ingin tahu dan ingin mengabadikan kejadian spektakuler, membuatnya datang ke arah teriakan itu.
Ternyata teriakan itu berasal dari seorang karyawan muda yang sedang dianiaya dan dirampok oleh sekelompok preman setempat yang berbadan tinggi besar dan bersenjatakan golok. Ironis memang, namun rasa miris, sedih, atau takut tak dirasakan oleh Narendra. Dengan sigap ia langsung mengeluarkan handy cam dari tasnya, lalu merekam kejadian tersebut. Tak ada detail yang terlewatkan olehnya, sampai akhirnya kejadian itu diketahui oleh warga setempat dan perampok-perampok itu pun lari.
Sesampainya di rumah, Narendra sudah tak sabar lagi untuk melihat hasil rekamannya. Ketika menonton, pada awalnya ia sungguh puas dengan hasilnya. Namun, Narendra sungguh tidak menduga bahwa di akhir rekaman videonya itu, salah satu dari perampk mengerikan itu, menatap tepat ke lensa kameranya dengan jelas. Seketika itu juga Naren bergidik ngeri. Ia langsung tahu bahwa perampok itu menyadari bahwa ada saksi mata dan abrang bukti yang mengetahui bahwa mereka si pelaku. Keringat dingin menetes dari pelipis Narendra. Seketika ia sadar, bahwa hidupnya tak kan lagi sesederhana biasanya.
Beberapa hari kemudian, sepulangnya Narendra dari kampus, ketika ia melewati tempat yang sama sewaktu ia merekam kejadian mengerikan itu. Ia merasakan adanya langkah-langkah kaki di belakangnya. Rasa takut menyergapnya. Naren mempercepat langkahnya. Firasat buruk muncul. Ia yakin sekali bahwa yang mengejar-nya adalah perampok-perampok jahat itu. Beruntung ketika Naren tiba di jalan besar, langkah kaki itu terasa tak lagi mengikutinya.
Esoknya, Naren baru saja keluar dari rumahnya, dan ia menemukan sepucuk surat di depan rumahnya. Surat itu tidak memeiliki cap pos, pertanda memang diantarkan langsung oleh si empunya surat. Naren membukanya, dan betapa kagetnya ia, ketika membaca isi surat itu. Surat itu berbunyi : Kami tahu kalau elu ngeliat apa yang kami lakukan waktu itu!!!! Jangan harap elu bisa tenang. Cecunguk!!
Esoknya lagi, Naren baru saja akan berangkat ke kampusnya. Tiba-tiba ada mobil jeep menghalangi jalannya. Tiga orang tinggi besar langsung keluar dari mobil itu. Naren yakin benar akan apa yang dilihatnya. Itu adalah perampok-perampok yang direkamnya. Naren pun ditarik untuk masuk ke dalam mobil dengan kasar. Naren terus meronta. Ia masih ingin hidup. Ia sama sekali tak mengira bahwa hidupnya akan ebrakhir di tangan 3 orang jahat ini. Hanya karena handy-cam-nya… hanya hobinya…. hanya keterobsesiannya.
”Jadi anak ibu sejak kapan seperti ini?” seorang dokter setengah baya lengkap dengan kacamatanya, bertanya penuh keingintahuan pada seorang ibu yang terlihat sesenggukan.
”Saya nggak tahu dok…. mungkin sekitar seminggu lalu. Ia jadi begitu aneh. Wajahnya terlihat selalu waspada. Matanya tak mau menatap orang di sekitarnya. Makan pun nggak jelas… terlebih lagi…..” omongan si ibu menggantung.
”terlebih lagi apa bu?” si dokter berusaha untuk menggali lebih jauh.
”kira-kira empat hari yang lalu, ia berlari-lari sepulangnya dari kampus. Toloooooong ma… toloooooooong… aku diikutin diikutin maaaaaaaaaaaaaaa….. begitu katanya… padahal dia nggak diikutin siapa-siapa. Tidurnya pun sering mengigau nggak jelas… Waktu itu ada surat di depan rumah, padahal itu hanya surat rekening telpon, tapi ia berteriak-teriak ketakutan nggak mau kuliah, hari itu. Wajahnya panik dan takut. Lalu kemarin, saat ia berangkat kuliah, ia dicegat oleh pamannya, tapi ia malah meronta-ronta takut ketika ditawarkan untuk diantarkan ke kampus. Ia malah menonjok pamannya…. untungnya ada warga yang menenangkan Naren… setelah itu ia pingsan. Hari ini ia berceracau sendiri dengan handy cam-nya. Ia juga membuang semua hasil rekamannya selama ini… saya sedih sekali dok… saya nggak ngerti dia kenapa? Dia nggak mau cerita…” si ibu itu kembali menangis.
“Sepertinya anak ibu terkena halusinasi yang parah. Ia terlalu paranioid. Mungkin ia melihat sesuatu yang mengerikan…. lebih baik anak ibu dirawat dulu di sini.” pinta si dokter, ”Ya kan Naren? Kamu mau kan?”
Dokter itu bertanya pada Naren yang terduduk sambil senyam-senyum sendiri di sebelah ibunya. Ia berbicara asik sendiri dengan handy cam-nya…. naren tak lagi perduli dengan dunia yang selama ini ia saksikan dan rekam. Ia hanyut dalam dunianya sendiri, tak mau lagi kembali ke dunia yang penuh dengan ketakutan dan paranoia…
by : Mieke Eka Putri
posted by : d&m
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.