5 Wanita menceritakan tentang lika – liku kehidupan kelima wanita penderita cacat fisik yang berbeda. Gita, 25 tahun, yang kehilangan kedua kakinya dalam kecelakaan mengenaskan. Dara, 17 tahun, seorang gadis desa tuna rungu dengan talenta menyanyi yang sangat potensial untuk dikembangkan. Tara, 30 tahun, seorang tuna netra yang juga seorang perancang busana. Nisa, 20 tahun, seorang tuna wicara yang bergelut di bidang IT dan sering mengandalkan media chatting untuk berkomunikasi. Lana, 35 tahun, wanita single parent paruh baya yang terjangkit kanker payudara ganas.
Gita sebenarnya tidak ingin nasibnya menjadi tragis seperti sekarang. Awalnya ia berniat mengucapkan salam perpisahan kepada kekasihnya, Raka, yang akan melanjutkan studi kedokteran di Jerman. Naas baginya karena ia tertabrak mobil sehingga kedua kakinya terpaksa diamputasi. Raka yang merasa bersalah berjanji akan segera kembali untuk Gita.
Dara yang menyadari talentanya harus dikembangkan memberanikan diri mengikuti kontes pencarian bakat ternama ibukota. Dukungan keluarga menjadi suntikan penyemangatnya untuk terus melaju dalam kontes tersebut.
Tara yang memiliki sebuah butik kecil di pinggiran ibukota mendapat kesempatan untuk menampilkan koleksi rancangannya di pusat ibukota. Namun, Tara merasa minder dan mengalami krisis percaya diri karena rasa malu yang terus menghantuinya.
Nisa yang sukses dengan proyek software ciptaanya pun sukses jatuh hati pula dengan salah seorang eksekutif muda bernama Dodi yang sekaligus klien baru di perusahaan tempat ia bekerja. Namun, Nisa tidak berani menyatakan perasaannya walaupun ia sering chatting dengan Dodi.
Lana memiliki seorang putra bernama Adit yang tampan dan pintar serta akan diwisuda pada bulan depan. Sayangnya, Adit tidak dapat menerima kondisi bundanya yang sedang kritis melawan kanker dan mengalami kebotakan. Adit merasa malu dan terhina jika membawa ibunya pada acara wisudanya tersebut. Terlebih, Adit juga langsung mendapat beasiswa Master di Australia. Walaupun perlakuan Adit tidak berkenan, Lana tetap menyayangi Adit sepenuh hati.
Konflik makin rumit ketika Raka yang telah kembali dari Jerman bersedia membantu Gita dengan membuat kaki palsu supaya ia dapat berjalan lagi. Namun, Raka tidak kembali sendiri melainkan dengan seorang wanita Jerman bernama Tatiana, tunangannya. Gita merasa terpukul sekali dan bimbang apakah ia akan menerima tawaran dari Raka atau tidak. Namun pada akhirnya Gita menyadari bahwa cinta tidak selamanya harus memiliki. Melepas Raka merupakan cara satu- satunya sehingga baik ia maupun Raka dapat memulai lembaran baru dalam hidup masing – masing. Gita pun menjalani operasi tersebut dan ia dapat berjalan kembali.
Tara yang sedang berdiam di butiknya didatangi dua wanita yang tak lain Tatiana yang memesan baju pengantin dan Gita yang akan menjadi bridemaid pada pernikahan Tatiana dan Raka. Karena akan dihadiri oleh sejumlah public figure dan pejabat penting, Tara mengiyakan permintaan Tatiana dan Raka untuk merancang gaun bagi mereka. Tara berharap jika reaksi yang didapat positif maka ia akan memberanikan diri untung tampil di parade fashion show yang ditawarkan padanya. Akhirnya, pesta pernikahan itu terlaksana dengan baik dan gaun rancangannya membuat para tamu berdecak kagum sehingga Tara jadi mengikuti parade fashion show dan sejak saat itu ia menjadi salah seorang desainer yang patut diperhitungkan dalam perkembangan mode di ibukota.
Dara yang pada babak pertama kontes tereliminasi karena juri tidak bisa menerima kekurangan fisiknya menjadi putus asa. Karena tidak memiliki cukup uang untuk kembali ke kampung, ia terpaksa mengamen di jalanan ibukota. Suaranya yang merdu menggugah hati Nisa yang sedang terjebak kemacetan dalam perjalanan ke sebuah café untuk makan malam berdua dengan Dodi mengajak Dara ikut bersamanya. Ia menulis di kertas memohon pada Dara untuk menyanyikan lagu yang menggambarkan perasaannya pada Dodi dan Dara mengiyakan. Akhirnya, hati Dodi luluh dan ia menerima cinta Nisa. Secara kebetulan, di café tersebut ada seorang produser musik bernama Bram yang tertarik pada suara Dara dan akhirnya impian Dara menjadi seorang penyanyi terwujud berkat kerjasama yang baik antara ia dan Bram.
Dara yang telah menjadi penyanyi terkenal mengisi acara pada wisuda kampus Adit yang juga merupakan kampus ternama di Indonesia. Lagu Bunda ciptaan Melly Goeslaw menggugah hati Adit yang tiba – tiba teringat pada Lana, ibunya. Adit yang sejak dua bulan lalu sudah tidak tinggal bersama ibunya tidak mengetahui bahwa ibunya, Lana, telah menghembuskan nafas terakhirnya saat sidang skripsinya berakhir. Saat hendak mengambil paspornya yang tertinggal di rumah, ia baru mengetahui semua dan langsung terduduk lemas. Terlebih di meja kamar tidurnya telah tertata rapi segala keperluan termasuk paspor dan sweater rajutan Lana sendiri supaya Adit tidak kedinginan selama berada di Australia. Adit bergegas mengunjungi makam Lana dan bersimpuh memohon maaf. Akhirnya, Adit tidak jadi berangkat ke Australia. Ia menjadi aktivis seperti ibunya khususnya dalam rangka memerangi kanker payudara.
Created by :
Lucia Roly – 0606101622 – Dalam Rangka Memperingati Hari Kartini 2008
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.