Suatu ketika ada seorang pemuda yang sedang menunggu kekasihnya di sebuah taman, di bawah sebatang pohon yang rindang, sambil membawa bunga. Laki-laki itu menunggu kekasihnya dengan sabar. Namun setelah beberapa menit menunggu ia merasa bosan. Ia mulai gelisah dan selalu melirik jam tangannya. Ia mulai mondar-mandir dan bertanya-tanya dalam hati di manakah kekasihnya gerangan. Ia berandai-andai jika ia mempunyai sebuah benda ajaib yang dapat membawanya ke masa depan yang ia inginkan sehingga tidak perlu menunggu. Ketika sedang bosan sambil berandai-andai itu, tiba-tiba muncullah seorang peri di hadapannya. Peri itu cantik, bersayap, dan suaranya lembut bagai nyanyian surgawi. Pria itu sangat kaget, namun peri itu menenangkannya.
“Aku mendengar keluhanmu dan aku mempunyai jawaban atas masalahmu. Ambillah ini!” kata peri itu seraya menyodorkan sebuah kancing emas. “Kenakanlah pada pakaianmu dan jika kau merasa bosan dan ingin waktu cepat berlalu, putarlah kancing ini ke kenan.”
Seusai menerima pemberian peri itu, ia pun menghilang. Kini pria itu yang ditinggal sangat terheran-heran namun gembira segera memasangkan kancing itu dan memutarnya ke kanan. Sesaat kemudian, kekasihnya sudah berada di depannya. Ia sangat gembira bertemu kekasihnya itu. Sambil bercakap-cakap, ia berangan-angan lagi.
“Ah, seandainya ia menjadi istriku!”
Kemudian ia memutar kancing itu ke kanan dan keajaiban terjadi. Ia kini mengenakan tuksedo hitam dan sedang berada di gereja sambil bergandengan tangan dengan kekasihnya yang kini mengenakan gaun putih indah, saling mengucap janji setia. Ia pun sangat bahagia dengan keadaannya. Ia merayakan pernikahannya di kebun dan semua orang tampak bahagia. Namun yang paling berbahagia adalah dirinya karena dapat bersatu dengan kekasihnya. Ia pun berbicara dengan istrinya,
“Seandainya kita memiliki anak yang banyak, pastilah hidup kita akan lebih bahagia.”
Dan ia pun memutar kancingnya. Sesaat kemudian ia sedang duduk-duduk santai di rumahnya, sambil melihat empat orang anaknya bermain. Ia ditemani istrinya yang sedang merajut, menghabiskan waktu santai bersama keluarganya, dan sangat bahagia melihat anak-anaknya tumbuh sehat dan bahagia. Namun ia pun melihat dirinya sudah mulai tua.
“Ah, sungguh bahagia diriku jika melihat mereka menikah nanti.”
Maka ia pun memutar kancingnya dan kini ia sedang berada di pesta pernikahan anaknya yang sulung. Ia memandang gembira sekelilingnya. Anaknya sudah menikah, pesta yang menyenangkan, dan orang-orang tampak tersenyum bahagia. Walaupun dilihatnya dirinya dan istrinya sudah mulai tua dan keriput, hal itu tak mengurangi rasa senang dalam hatinya. Dan ia pun memutar kancingnya sekali lagi.
Kini ia sedang terbaring sakit di tempat tidur. Napasnya sudah tersengal-sengal. Tangannya sudah gemetaran, mukanya sudah keriput. Ia melihat istrinya yang setia di sampingnya sudah tidak secantik dulu lagi ketika muda. Obat-obatan yang harus diminumnya membuatnya muak. Ia kini sadar kesalahannya.
“Ah, seandainya saja waktu dapat berputar kembali.”
Dan dengan sisa tenaganya, dengan agak ragu ia mencoba memutar kancing itu ke kiri. Dan lihatlah di mana ia sekarang. Ia sedang berada di taman, menunggu di bawah pohon rindang, dengan bunga di tangannya, menunggu kekasihnya datang. Kancing emasnya tak ada di pakaiannya. Ia pun terdiam lama dan kini tanpa melirik jam tangannya, ia menunggu kekasihnya dengan sabar.
created by :
Priska Kalista
1 response so far ↓
razak // July 21, 2008 at 6:29 am
Haha.. Bagus..Bagus.. Critanya lumayan menginspirasi..