.xociety of movie lover: movie for everyone!

UNTITLED

May 2, 2008 · Leave a Comment

Jodoh itu ndak perlu dicari, le. Nek wis wektune, bakal teko dewe”. Kalimat itu yang selalu terngiang di kepala Rio. Kata-kata ibunya yang waktu muda merupakan pesinden tersohor di kampungnya. Sampai sekarang di usianya yang ke- 21, Rio masih ingin membuktikan kebenaran kalimat tersebut.

Samar-samar terdengar panggilan yang membuyarkan lamunan tengah harinya. Rio menoleh ke arah suara itu. Ica, teman yang duduk disebelahnya berbisik menyuruhnya membuat kelompok tugas yang diberikan Bu Astini Iswarani. Rio duduk tegak dan mencoba mengembalikan pikirannya ke dalam ruang kelasnya. Bu Astini Iswarani atau yang lebih akrab disapa Bu Ais, dosen Mikrobiologi Fakultas MIPA Universitas Depok Jakarta itulah yang membuat dirinya melamun di siang hari bolong.

Pagi ini Rio sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. Sepotong kaos berwarna merah dan celana pendek hitam sudah disiapkannya tadi malam sebelum tidur. Selesai mandi dan melakukan sedikit ritual pengharuman diri, ia bergegas mengayuh sepedanya menuju kampus Universitas Depok Jakarta.

Sudah menjadi kesepakatan bersama di kampusnya, hari Sabtu pagi adalah hari paling ceria. Alunan musik berbagai aliran mengiringi langkah kaki pejalan kaki yang menuju lapangan utama kampus. Arena kampus pada hari Sabtu ramai berisi manusia-manusia yang ingin berolahraga dan mengusir setan-setan penyakit dalam tubuh.

Dalam kerumunan manusia, mata Rio menyipit mencari sosok wanita yang membuatnya penasaran. Sambil menuntun sepedanya menuju parkiran, ia tidak melepaskan pandangannya dari sosok dosen Mikrobiologinya itu. Ia menyeruak barisan orang-orang yang ingin bersenam pagi dan menyapa dosen berambut keriting itu dengan penuh antusiasme. Mendapat sambutan yang begitu hangat dan akrab, Rio tidak beranjak dari tempatnya yaitu di barisan terdepan senam pagi. Dari sini, ia dapat melihat dan mengikuti setiap gerakan senam yang diperagakan Bu Ais.

Senyum kecil tak pernah lepas dari bibir Rio ketika mengantar dosen favoritnya itu pulang. Percakapan demi percakapan bergulir begitu saja seolah ada skenarionya. Walaupun rumahnya dan Bu Ais berjauhan 180o, Rio hanya menikmati detik-detik kebersamaan mereka.

Suatu kali, Rio pernah bercerita pada sahabatnya, Dani, tentang perasaannya terhadap Bu Ais. Dani berkali-kali berkomentar bahwa hubungan itu tidaklah mungkin. Usia mereka terlampau jauh berbeda. Terlebih lagi, Bu Ais adalah seorang dosen. Probabilitas dia bisa jatuh cinta pada mahasiswanya nyaris nol. Rio ragu, hati kecilnya berkata bahwa ucapan Dani benar, dan kini ia takut.

Akhir-akhir ini Rio terlihat lebih sering melamun. Ia tidak lagi bangun pagi buta di hari Sabtu. Hampir selalu terlambat kuliah, bahkan kuliah Mikrobiologi. Pikirannya melayang, bukan memikirkan Bu Ais tapi justru Dani, tepatnya kata-kata Dani. Tapi pada akhirnya Rio tidak peduli, ia ikuti perasaannya, tetap kukuh ingin membuktikan kata-kata ibunya.

Sekarang, aikido jadi satu olahraga yang ingin dipelajarinya. Martial arts asal Jepang yang memanfaatkan serangan lawan untuk membela diri. Tentu saja, siapa lagi yang membuatnya tertarik kalau bukan dosen unik yang cinta olahraga, Bu Ais. Aikido mengharuskan Rio berpasangan dengan orang lain, termasuk Bu Ais untuk melatih teknik. Justru inilah yang ditunggu-tunggu oleh Rio setiap minggunya, kesempatan berpasangan dengan Bu Ais yang lebih senior darinya. ‘Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui’. Peribahasa sepertinya itu cocok sekali dengan diri Rio saat ini. Bukankah demikian??

Gosip memang beredar dengan cepat, di jurusannya, Biologi. Tidak ada berita rahasia yang bisa bertahan lebih dari satu hari. Termasuk gosip tentang Bu Ais dan seorang laki-laki yang dekat dengannya. Apalagi laki-laki tersebut juga penghuni kampus yang sama. Siapakah laki-laki itu? Menurut gossip yang beredar, tidak lain dan tidak bukan adalah Pak Didin, dosen Mikrobiologi yang mengajar setelah ujian tengah semester.

Dunia serasa berputar dengan lambat sampai Rio bisa merasakan putaran yang membuatnya pening. Menurut kabar yang didengarnya dari si Ratu Gosip, Ica, Pak Didin dan Bu Ais sering pulang bersama-sama. Selain itu, Bu Ais memakai parfum yang diberikan Pak Didin di hari ulang tahunnya. Dan yang paling mencolok adalah kini sebuah cincin melingkar di jari Bu Ais…

Hati Rio berdegup kencang menunggu pukul 16.00 waktu selesainya kuliah Mikrobiologi. Rio telah membulatkan tekad. Ia tidak mampu lagi terombang-ambing dalam ketidakpastian kabar mengenai kedekatan Bu Ais dengan Pak Didin. Rio sadar dan ingat betul momen penyerahan kado ulang tahun Bu Ais yang ke- 29.

Kado darinya dalam kotak berwarna biru…

yang berisi sebuah cincin perak…

Kini semua bagai terselubung kabut.

Bagaimanakah sesungguhnya hubungan Bu Ais dan Pak Didin?

Mampukah Rio menemukan jodohnya dan membuktikan kebenaran kata-kata ibunya?

***

Created by : Reffynda Esna Putri (0606101894)

Pondok Gede, 27 Maret 2008

posted by deti & mesa

Categories: drama

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment